viglink

Facebook like


Logo

Image by FlamingText.com

Enable clik

Info masuk



Listen My Radio at Facebook or Here

Background

Tweet Terbang

online

wibiya widget

Change colour

Silahkan Pilih Warna Background

Follow


Tulisan Ketik

Terima Kasih Dah Berkunjung di http://www.boynordin.blogspot.comSilahkan Anda Bagi Komen Ya...

Radio Boy Nordin Streaming



Listen My Radio at Facebook or Here




















Friday, December 2, 2011

KEHIDUPAN DI DUNIA INI(Renungkan lah...)

Alam semesta kita sangatlah teratur.
Miliaran bintang dan galaksi bergerak dalam orbit mereka masing-masing
dengan serasi. Galaksi terdiri dari hampir 300 miliar bintang yang
saling berpindah sesamanya dan, yang mengagumkan, selama perpindahan
dahsyat ini tidak terjadi satu pun Pelanggaran. Keteraturan tersebut
menyebabkan pelanggaran tidak terjadi. Lebih hebat lagi, kecepatan
benda-benda di alam semesta berada di luar batas imajinasi manusia.
Dimensi fisik luar angkasa sangatlah besar jika dibandingkan dengan
pengukuran yang digunakan di bumi. Bintang-bintang dan planet-planet,
dengan massa miliaran atau triliunan ton, dan galaksi, dengan ukuran
yang hanya dapat dipahami dengan bantuan rumus-rumus matematik,
seluruhnya berputar dalam jalurnya masing-masing di ruang angkasa
dengan kecepatan yang luar biasa.

Sebagai contoh, bumi berotasi terhadap sumbunya sehingga titik-titik
di permukaannya bergerak dengan kecepatan rata-rata sekitar 1.670 km
per jam. Kecepatan linear rata-rata bumi dalam orbitnya mengelilingi
matahari adalah 108.000 km per jam. Namun, angka-angka ini hanyalah
mengenai bumi. Kita mendapati angka-angka yang jauh lebih besar saat
memeriksa dimensi di luar sistem tata surya. Di alam semesta, seiring
bertambahnya ukuran sistem, kecepatannya pun meningkat. Tata surya
berevolusi mengelilingi pusat galaksi pada kecepatan 720.000 km
per jam. Kecepatan Bima Sakti sendiri, yang terdiri dari sekitar
200 miliar bintang, adalah 950.000 km per jam. Pergerakan yang
terus-menerus ini tidak dapat dibayangkan manusia. Bumi, bersama
sistem tata suryanya, setiap tahun bergerak 500 juta km menjauh dari
lokasinya pada tahun sebelumnya.
Terdapat keseimbangan yang luar biasa dalam seluruh gerakan
dinamis ini dan hal tersebut mengungkapkan bahwa kehidupan di
bumi berlandaskan pada keseimbangan yang sangat cermat. Pergeseran
yang sangat sedikit pun pada orbit benda-benda langit, bahkan hanya
beberapa milimeter, dapat membawa akibat yang sangat serius.
Beberapa di antaranya dapat sangat mengganggu sehingga kehidupan
di bumi tidak mungkin terjadi. Dalam sistem yang di dalamnya
terdapat kesetimbangan dan juga kecepatan yang luar biasa itu,
kecelakaan raksasa dapat terjadi bila-bila masa pun. Meski demikian, fakta
bahwa kita menjalani hidup kita secara wajar di planet ini membuat
kita lupa akan bahaya besar yang ada di alam semesta. Keteraturan
alam semesta kini dengan jumlah pelanggaran yang kita tahu yang hampir
dapat diabaikan, langsung membuat kita berpikir bahwa kita dikelilingi
oleh suatu lingkungan yang sempurna, stabil, dan aman.
Manusia tidak banyak memikirkan hal tersebut. Itulah sebabnya
mengapa mereka tidak pernah menyadari jaringan luar biasa dari
keadaan2 yang saling berhubungan yang membuat kehidupan
berlangsung di bumi, ataupun mengerti bahwa pemahaman atas tujuan
hidup mereka yang sesungguhnya sangatlah penting. Mereka hidup
bahkan tanpa memikirkan bagaimana keseimbangan yang luar biasa
namun cermat ini sampai tercipta.

Meski demikian, manusia diberikan kemampuan untuk berpikir.
Tanpa merenungkan keadaan sekitarnya dengan teliti dan bijaksana,
seseorang tidak akan pernah melihat kenyataan atau bahkan tidak
memikirkan sedikit pun mengapa dunia diciptakan dan siapa yang
membuat keteraturan besar ini bergerak dengan ritme yang begitu
sempurna.
Seseorang yang merenungkan dan memahami pentingnya
pertanyaan-pertanyaan ini akan berhadap-hadapan dengan sebuah
fakta yang tidak dapat dihindari: alam semesta yang kita tempati
diciptakan oleh sang Pencipta, yang keberadaan dan sifat-Nya
terwujud dalam segala sesuatu. Bumi, sebuah titik kecil di
alam semesta, diciptakan untuk menjalankan tujuan yang penting.
Tidak ada suatu pun terjadi tanpa tujuan dalam kehidupan kita.
Sang Pencipta, dengan menampakkan sifat, kekuasaan dan
kebijaksanaan-Nya di seluruh alam semesta, tidak meninggalkan
manusia seorang diri namun membekalinya dengan tujuan yang
sangat penting.
Alasan mengapa manusia ada di bumi diceritakan oleh Allah
dalam Al Quran sebagai berikut:
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya
Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.
Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al Mulk, 67: 2)


Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya,
karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
(QS. Al Insaan, 76:2)
Dalam Al Quran, Allah lebih lanjut menjelaskan bahwa tidak
ada suatu pun yang tidak memiliki tujuan:
Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan
bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.
Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, tentulah Kami
membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian.
(QS. Al Anbiyaa’, 21: 16-17)
Rahasia Dunia

Allah menunjukkan tujuan manusia dalam ayat berikut:
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi
sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara
mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. Al Kahfi, 18: 7)
Dengan demikian, Allah mengharapkan manusia tetap menjadi hamba-Nya
yang setia sepanjang hidupnya. Dengan kata lain, dunia adalah tempat
di mana mereka yang takut kepada Allah dan mereka yang tidak berterima
kasih kepada Allah dibedakan satu sama lain, kebaikan dan keburukan,
kesempurnaan dan kekurangan bersisian dalam "kerangka" ini. Manusia
diuji dalam banyak hal. Pada akhirnya, orang-orang yang beriman akan
terpisahkan dari orang-orang yang tidak beriman dan mencapai surga.
Dalam Al Quran hal tersebut digambarkan sebagai berikut:
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang
yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang
yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
(QS. Al Ankabuut, 29: 3)



Saat memandang bumi dari angkasa,
siapa pun yang mengklaim punya keunggulan mau tak mau akan
menyadari keberadaannya sebagai tak lebih dari sebuah titik
teramat kecil di dunia ini. Karena merasa punya status dan
tempat yang khusus di dunia ini, banyak orang menganggap diri
dan cara hidupnya berbeda dari yang lainnya. Namun, baik
seseorang itu berkecukupan maupun miskin, tua maupun muda,
terpelajar maupun buta huruf, ia menempati ruang yang hampir
dapat diabaikan di alam semesta yang sangat luas ini, samudera
miliaran bintang.





Gambar ini menunjukkan posisi bumi di dalam tata surya,
posisi tata surya di dalam Bima Sakti, dan akhirnya,
posisi galaksi kita di alam semesta.
Untuk memahami intisari dari ujian ini, seseorang harus memiliki
pemahaman mendalam tentang Penciptanya, yang keberadaan dan sifat-Nya
terwujud dalam segala sesuatu yang ada, Ialah sang Pencipta, Pemilik
kekuatan, pengetahuan, dan kebijaksanaan yang tak terbatas.

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan,
Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya
apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana. (QS. Al Hasyhr, 59: 24)

Allah menciptakan manusia dari tanah liat, memberkahinya dengan banyak
keistimewaan, dan melimpahkan banyak kemurahan atasnya. Tidak ada seorang
pun mendapatkan kemampuan penglihatan, pendengaran, berjalan, atau bernafas
dengan sendirinya. Lebih lanjut, sistem yang kompleks ini ditempatkan di
tubuhnya dalam rahim sebelum ia dilahirkan dan ketika ia tidak memiliki
kemampuan apa pun untuk merasakan dunia luar.
Dengan seluruh pemberian ini, yang diharapkan dari seorang manusia
adalah agar ia menjadi hamba Allah. Bagaimanapun, sebagaimana dijelaskan
Allah dalam Al Quran, kebanyakan manusia adalah "penderhaka" dan "tidak
berterima kasih" kepada Penciptanya, karena mereka menolak mematuhi Allah.
Mereka menganggap bahwa kehidupan itu panjang dan mereka memiliki kekuatan
untuk bertahan.
Itulah sebabnya tujuan mereka adalah "menggunakan hidup mereka
sebaik-baiknya selagi sempat". Mereka melupakan kematian dan hari akhir,
Mereka berusaha keras menikmati kehidupan dan mencapai standar kehidupan
yang lebih baik. Allah menjelaskan kecintaan mereka terhadap hidup ini
dalam ayat berikut:

Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan
mereka tidak memedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat. (QS.
Al Insaan, 76: 27)
Di dalam Al Quran, wahyu otentik terakhir yang tersisa, yang
membimbing manusia kepada jalan yang benar, Allah berulang kali
mengingatkan kita akan sifat fana dunia ini, memanggil kita kepada
kejernihan pikiran dan kesadaran. Tentu saja, di mana pun kita
tinggal, kita semua rentan terhadap dampak-dampak yang menghancurkan
dari dunia ini, sebuah fenomena yang menjelaskan dirinya sendiri
bagi orang-orang yang mengamati kehidupan dan berbagi kejadian di
sekitar kita. Ini sama halnya untuk segala keindahan yang mengelilingi
kita. Gambar di halaman ini masing-masingnya menunjukkan fakta ini.
Setiap sudut dunia betapa pun mengesankannya, akan rusak dalam
beberapa dasawarsa, terkadang bahkan dalam jangka waktu yang lebih
singkat daripada yang diperkirakan.



Segala sesuatu di muka bumi ditakdirkan untuk musnah. Inilah sifat
kehidupan duniawi yang sebenarnya...
Orang-orang yang tidak beriman berusaha keras merasakan seluruh
kesenangan hidup ini. Namun, sebagaimana yang digambarkan dalam ayat
di atas, hidup berlalu dengan sangat cepat. Ini adalah poin penting
yang dilupakan oleh kebanyakan manusia.

Marilah kita berpikir mengenai sebuah contoh untuk lebih memperjelas
masalah ini.
Beberapa Detik atau Beberapa Jam?
Bayangkanlah sebuah percutian yang khas: setelah berbulan-bulan bekerja
keras, Anda mendapatkan cuti dua minggu dan tiba di tempat peristirahatan
favorit Anda setelah perjalanan lapan jam yang memenatkan. Lobi dipenuhi
orang-orang yang bercuti seperti anda. Anda bahkan melihat beberapa wajah
yang akrab dan menyalami mereka. Cuacanya hangat dan Anda tak ingin kehilangan
satu detik pun untuk menikmati sinar matahari dan laut yang tenang, maka tanpa
membuang waktu, Anda mencari ruangan Anda, mengenakan pakaian renang Anda dan
cepat2 ke pantai. Akhirnya, Anda berada dalam air yang sebening kristal,
namun tiba-tiba Anda dikejutkan sebuah suara: "Bangun, kamu akan terlambat
bekerja!"
Anda menganggap kata-kata ini tidak masuk di akal. Untuk sesaat, Anda tidak
dapat memahami apa yang terjadi; ada sebuah ketidakserasian yang tak terpahami
antara apa yang Anda lihat dan dengar. Ketika Anda membuka mata dan mendapatkan
diri Anda di kamar tidur Anda, kenyataan bahwa segalanya hanyalah mimpi sangat
mengejutkan anda. Anda tidak dapat menahan ekspresi kejutan ini: "Saya
berkendaraan selama lapan jam untuk mencapai tempat itu. Meskipun kini di luar
sangat sejuk, saya merasakan cahaya matahari di dalam mimpi saya. Saya merasakan
air membasahi wajah saya."
Perjalanan lapan jam ke tempat peristirahatan, saat-saat Anda menunggu di lobi,
singkatnya segala yang berhubungan dengan liburan Anda sesungguhnya hanyalah mimpi
yang berlangsung beberapa detik. Meski tidak dapat dibedakan dari kehidupan nyata,
apa yang Anda alami tersebut hanyalah mimpi semata.

Hal ini menunjukkan bahwa kita mungkin akan dibangunkan dari kehidupan di dunia
sebagaimana kita dibangunkan dari mimpi. Lalu, orang-orang yang tidak beriman akan
menunjukkan kekagetan yang sama. Seumur hidup, mereka tidak dapat membebaskan diri
dari anggapan keliru bahwa kehidupan mereka akan berlangsung lama. Namun, saat mereka
dibangkitkan kembali, mereka akan mendapati bahwa lamanya waktu yang tampak sebagai
60 atau 70 tahun masa hidup bagaikan hanya beberapa detik. Allah menceritakan fakta
ini dalam Al Quran:

Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?"
Mereka menjawab: "Kami tinggal sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada
orang-orang yang menghitung." Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal melainkan
sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui." (QS. Al Mu'minuun, 23:
112-114)

Apakah itu sepuluh atau seratus tahun, manusia akhirnya akan
menyadari pendeknya kehidupan sebagaimana yang dituturkan dalam
ayat di atas. Hal ini seperti seseorang yang terbangun dari mimpi,
dengan getir menyaksikan lenyapnya semua gambaran tentang percutian
panjang yang menyenangkan, dan tiba-tiba menyadari bahwa hal tersebut
hanyalah sebuah mimpi yang berlangsung beberapa detik saja. Begitu
pula, singkatnya kehidupan akan sangat memukul seseorang terutama
saat segala hal lain tentang hidupnya terlupakan. Allah memerintahkan
agar memperhatikan fakta ini dengan hati-hati dalam ayat Al Quran berikut:

Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah
orang-orang yang berdosa; ‘mereka tidak berdiam melainkan sesaat’.
Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan. (QS. Ar-Ruum, 30: 55)

Sama halnya dengan mereka yang hidup selama beberapa jam atau hari,
orang-orang yang hidup selama tujuh puluh tahun juga memiliki waktu yang
terbatas di dunia ini.… Sesuatu yang terbatas akan berakhir suatu saat.
Baik kehidupan selama delapan puluh atau seratus tahun, setiap hari
membawa manusia mendekat pada hari yang telah ditakdirkan tersebut.
Manusia, sesungguhnya, mengalami kenyataan ini sepanjang hidupnya. Tidak
peduli betapa panjangnya sebuah rencana yang ia pikirkan bagi dirinya
sendiri, suatu hari ia mencapai saat tertentu itu ketika ia akan
menyelesaikan cita-citanya. Setiap tujuan atau hal berharga yang dianggap
titik balik dalam kehidupan seseorang akan segera menjadi masa lalu.
Bayangkanlah seorang remaja, misalnya, yang baru saja memasuki SPM.
Umumnya, ia tidak tahan menunggu hari kelulusannya. Ia menanti-nantikannya
dengan hasrat yang tidak tertahankan. Namun segera ia mendapati dirinya
sendiri mengikuti STPM. Pada tahap hidupnya ini, ia bahkan tidak
ingat tahun-tahunnya yang panjang di SPM. Ada hal lain dalam pikirannya;
ia ingin menggunakan tahun-tahun berharga ini untuk meredakan kekhawatirannya
terhadap masa depan. Karenanya, ia membuat banyak rencana. Tidak lama kemudian,
ia sibuk menyusun pernikahannya yang akan segera datang, sebuah peristiwa
istimewa yang sangat dinantinya. Namun waktu berlalu lebih cepat daripada yang
diharapkannya dan ia meninggalkan tahun-tahun di belakangnya dan mendapati
dirinya sebagai seorang lelaki yang memimpin sebuah keluarga. Pada saat ia
menjadi Atok, sebagai seorang lelaki tua dengan kesehatan yang menurun, ia
hampir tidak dapat mengingat kejadian-kejadian yang dulu memberinya kesenangan
sebagai seorang pemuda. Ingatan yang suram akhirnya benar-benar menghilang.
Permasalahan yang dulu menjadi obsesinya sebagai pemuda tidak lagi menarik
perhatiannya. Hanya beberapa bayangan dari hidupnya terbentang di depan
matanya. Waktu yang telah ditentukan semakin mendekat. Waktu yang tertinggal
sangat terbatas; beberapa tahun, bulan, atau bahkan mungkin hari. Kisah klasik
tentang manusia, tanpa kecuali, berakhir di sini dengan sebuah pemakaman, yang
dihadiri anggota keluarga, teman dekat, dan sanak saudara. Nyatanya, tidak ada
seorang pun yang bebas dari akhir ini.
Meski demikian, sejak permulaan sejarah, Allah telah mengajarkan kepada
manusia mengenai sifat sementara dunia ini dan menggambarkan akhirat, tempat
tinggal manusia yang sesungguhnya dan kekal. Banyak detail mengenai surga dan
neraka digambarkan dalam wahyu Allah. Namun begitu, manusia cenderung melupakan
kebenaran mendasar ini dan mencoba menanamkan segala upayanya dalam hidup ini,
walaupun hidup itu pendek dan sementara. Bagaimanapun hanya mereka yang menggunakan
pendekatan rasional terhadap kehidupan yang mendapatkan kejelasan pikiran dan
kesadaran dan menyadari bahwa hidup ini tidaklah berarti apa-apa dibandingkan
dengan hidup yang kekal. Karena itulah tujuan hidup manusia hanyalah untuk mencapai
surga, sebuah tempat abadi yang penuh dengan kebaikan dan karunia Allah. Mencari
keridhaan Allah dengan keimanan yang benar adalah satu-satunya jalan untuk
mendapatkannya. Bagaimanapun, mereka mencoba untuk tidak memikirkan akhir dari
dunia yang tak terhindarkan ini, dan menjalani hidup dengan sikap sedemikian
tentulah sangat pantas menerima hukuman yang kekal.

Allah dalam Al Quran mengisahkan akhir yang mengerikan yang akan datang pada orang-orang ini:

Dan akan ada hari di mana Allah mengumpulkan
mereka, seakanakan mereka tidak pernah berdiam hanya sesaat di
siang hari, mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang
yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak
mendapat petunjuk. (QS. Yunus, 10: 45)
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang
yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan
janganlah kamu meminta disegerakan bagi mereka. Pada hari mereka
melihat azab yang diancamkan kepada mereka seolah-olah tidak tinggal
melainkan sesaat pada siang hari. Suatu pelajaran yang cukup, maka
tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik. (QS. Al Ahqaf, 46: 35)


Ambisi yang Tidak Terkendali

Di bagian awal buku ini, disebutkan bahwa waktu yang dihabiskan
seorang manusia di dunia ini pendek bagaikan "kejapan mata". Namun,
apa pun yang dimiliki seorang manusia dalam kehidupan, ia tidak akan
mencapai kepuasan sejati kecuali ia beriman kepada Allah dan menyibukkan
diri dengan selalu mengingat-Nya.
Sejak beranjak dewasa, ia menginginkan kekayaan, kekuasaan, atau
status. Namun bagaimanapun, ia tidak memiliki cukup sumber daya untuk
memuaskan keinginan ini, tidak ada kesempatan untuk memiliki semua yang
ia inginkan. Kekayaan, kesuksesan, atau bentuk kesejahteraan apa pun,
tidak ada yang dapat meredakan ambisinya. Tanpa memandang status sosial
atau jenis kelamin, kehidupan manusia kebanyakan terbatas hingga 60 atau
70 tahun saja. Pada akhir masa ini, kematian membuat seluruh cita rasa
dan kesenangan itu tidak berarti.
Seseorang yang cenderung tidak mampu mengendalikan keinginannya
senantiasa mendapati dirinya benar-benar "tidak dapat terpuaskan". Pada
setiap tahap kehidupannya, ketidakpuasan ini selalu ada, sementara
penyebabnya berubah sesuai waktu dan kondisi. Keinginan untuk memuaskan
hasrat ini dapat membuat sebagian manusia memperturutkannya dalam hampir
segala hal. Ia mungkin sangat setia kepada hasratnya sehingga mau menghadapi
setiap konsekuensi, walau itu berarti kehilangan cinta dari keluarga dekat
atau menjadi terkucil. Namun, begitu ia mencapai tujuannya, "sihir" itu
menghilang. Ia kehilangan minat terhadap apa yang telah dicapai. Selanjutnya,
karena tidak puas oleh pencapaian ini, ia segera mencari tujuan lain dan
melakukan berbagai usaha untuk mencapainya hingga akhirnya bisa meraihnya
pula.
Memiliki ambisi yang tidak terkendali adalah karakteristik khusus orang
yang tidak beriman. Ciri tersebut tetap bersamanya hingga ia mati. Ia tidak
pernah merasa puas dengan apa yang ia miliki. Ini karena ia hanya menginginkan
segalanya bagi keserakahannya sendiri dan bukan untuk mencapai keridhaan Allah.
Begitu pula, segala milik manusia dan yang ia usahakan dengan kerja keras untuk
miliki merupakan alasan untuk disombongkan, dan ia mengabaikan batasan-batasan
Allah. Pastilah, Allah tidak akan mengizinkan seseorang yang sangat melawan-Nya
seperti demikian memiliki kedamaian pikiran di dunia ini. Allah berfirman dalam
ayat-ayat Al Quran:


Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram. (QS. Ar-Ra'd, 13: 28)
Dunia yang Menipu
Contoh-contoh yang tidak terhitung banyaknya dari kesempurnaan penciptaan
mengelilingi manusia di seluruh dunia: daratan-daratan yang indah, jutaan jenis
tumbuhan yang berbeda, langit yang biru, awan-awan yang diberati hujan, atau
tubuh manusia -- sebuah organisme sempurna yang dipenuhi sistem yang kompleks.
Ini semua adalah contoh luar biasa dari penciptaan, gambaran yang memberikan
pengetahuan yang dalam.
Menatap seekor kupu-kupu menunjukkan sayapnya, dengan pola-pola sangat rumit
yang menyatakan identitasnya, adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Bulu-buku kepala seekor burung, yang begitu indah dan cemerlang hingga mereka
terlihat seperti beludru hitam yang mewah, atau warna-warna menarik dan harumnya
sekuntum bunga, seluruhnya mengagumkan jiwa manusia.

Setiap manusia, hampir tanpa kecuali, menghargai wajah yang cantik. Rumah
besar yang mewah, perabotan berlapis emas dan mobil mewah bagi sebagian manusia
adalah harta benda yang paling dipuja. Manusia menginginkan banyak hal dalam
hidupnya, namun kecantikan dari apa pun yang kita miliki ditakdirkan lenyap pada
waktunya.





Di dalam Al Quran, wahyu otentik terakhir
yang tersisa, yang membimbing manusia kepada jalan yang benar,
Allah berulang kali mengingatkan kita akan sifat fana dunia ini,
memanggil kita kepada kejernihan pikiran dan kesadaran. Tentu
saja, di mana pun kita tinggal, kita semua rentan terhadap
dampak-dampak yang menghancurkan dari dunia ini, sebuah fenomena
yang menjelaskan dirinya sendiri bagi orang-orang yang mengamati
kehidupan dan berbagi kejadian di sekitar kita. Ini sama halnya
untuk segala keindahan yang mengelilingi kita. Gambar di halaman
ini masing-masingnya menunjukkan fakta ini. Setiap sudut dunia
betapa pun mengesankannya, akan rusak dalam beberapa dasawarsa,
terkadang bahkan dalam jangka waktu yang lebih singkat daripada
yang diperkirakan.
Buah perlahan-lahan berubah warna menjadi gelap dan akhirnya menjadi
busuk dari saat ia dipetik dari batangnya. Harumnya bunga yang mengisi
ruangan kita terbatas waktunya. Segera, warna mereka menghilang dan mereka
layu. Wajah yang paling cantik berkeriput setelah beberapa puluh tahun: efek
bertahun-tahun pada kulit dan berubahnya rambut menjadi abu-abu membuat wajah
yang cantik tersebut tidak berbeda dari orang-orang tua lainnya. Tidak
tertinggal jejak pipi kemerahan yang sehat milik seorang remaja setelah
berlalunya waktu bertahun-tahun. Bangunan membutuhkan renovasi, kendaraan
menjadi ketinggalan jaman dan, bahkan lebih buruk lagi, berkarat. Singkatnya,
segala yang mengelilingi kita akan digerogoti waktu. Sebagiannya terlihat seperti
"proses alami". Bagaimanapun, hal ini menyampaikan sebuah pesan yang jelas:
"tidak ada satu pun yang kebal terhadap pengaruh waktu".

Di atas segalanya, setiap tumbuhan, binatang, dan manusia di dunia
dengan kata lain, setiap mahkluk hidup tidaklah kekal. Fakta bawa
populasi dunia tidak mengecil selama berabad-abad karena banyaknya
kelahiran seharusnya tidak membuat kita mengabaikan kematian.
Namun sebagai sebuah keinginan yang tidak terkendali, bujukan
harta benda dan kekayaan sangat memengaruhi manusia. Nafsu akan
harta benda tanpa disadari menguasainya. Bagaimanapun, ada satu
poin yang harus dipahami: Allah-lah pemilik satu-satunya atas segala
sesuatu. Makhluk hidup tetap hidup selama Ia kehendaki dan mereka
mati begitu Ia menetapkan kematian mereka.





Segala sesuatu di muka bumi ditakdirkan
untuk musnah. Inilah sifat kehidupan


duniawi yang sebenarnya...
Allah memerintahkan manusia untuk memikirkan hal ini dalam ayat berikut:

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu,
adalah seperti air yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah
dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada
yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu
telah sempurna keindahannya, dan memakai perhiasannya, dan
pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya,
tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang,
lalu Kami jadikan laksana tanam-tanaman yang sudah disabit,
seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan
tandatanda kekuasaan kepada orang-orang berfikir. (QS. Yunus, 10: 24)

Dalam ayat ini, ditunjukkan bahwa segala sesuatu yang terlihat
indah dan cantik di bumi ini akan kehilangan keindahannya suatu saat.
Lebih jauh lagi, mereka seluruhnya akan lenyap dari muka bumi ini.
Ini sebuah poin penting untuk direnungkan karena Allah memberitahu
kita bahwa Ia memberikan contoh-contoh demikian "bagi mereka yang
berpikir". Sebagai makhluk yang dapat berpikir, manusia diharapkan
memikirkan dan mengambil pelajaran dari aneka peristiwa dan akhirnya
menetapkan tujuan rasional bagi hidupnya. "Pikiran" dan "pemahaman"
adalah sifat khas manusia; tanpa sifat-sifat ini manusia kehilangan
ciri yang paling khusus dan menjadi lebih rendah daripada binatang.
Binatang pun menjalani kehidupan seperti manusia dalam banyak hal:
mereka bernafas, berkembang biak, dan pada suatu hari, mati. Binatang
tidak pernah berpikir mengapa dan bagaimana mereka dilahirkan, atau
bahwa mereka akan mati pada suatu hari. Sangat wajar bila mereka tidak
berusaha memahami tujuan hidup ini yang sesungguhnya; mereka tidak
diminta memikirkan tujuan penciptaan mereka atau tentang sang Pencipta.

Dan berilah perumpamaan kepada mereka, kehidupan
dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi
subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan
itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah,
Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Kahfi, 18: 45)

Namun, manusia bertanggung jawab kepada Allah untuk membangun kesadaran
terhadap Allah melalui perenungan dan kesadaran akan perintah-Nya.
Lebih lanjut, ia hendaknya memahami bahwa dunia ini ada hanya untuk
waktu yang terbatas. Mereka yang benar-benar memahami fakta ini akan
mencari tuntunan dan cahaya Allah dengan melakukan amal-amal baik.
Bila tidak, manusia akan menemui penderitaan baik di dunia dan di
akhirat. Ia menjadi kaya, namun tidak pernah mendapatkan kebahagiaan.
Kecantikan dan ketenaran biasanya membawa kemalangan, bukannya hidup
yang menyenangkan. Seorang pesohor misalnya, pada suatu saat bersenang-senang
dalam pujaan penggemarnya, namun kemudian berperang dengan masalah
kesehatan yang parah, dan pada suatu hari meninggal seorang diri dalam
sebuah kamar hotel yang kecil tanpa seorang pun yang merawatnya.


Contoh-Contoh dalam Al Quran Mengenai
Tipuan Dunia
Allah berulang kali menekankan dalam Al Quran bahwa dunia hanyalah
"tempat di mana segala kesenangan ditetapkan untuk musnah". Allah
menceritakan kisah-kisah berbagai bangsa, laki-laki, dan wanita di masa
lampau yang bersenang-senang dalam kekayaan, ketenaran, atau status
sosialnya, namun menemui akhir yang mencelakakan. Hal tersebut seperti
dua orang laki-laki yang diceritakan dalam surat Al Kahfi:

Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan
dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya
dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan
pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.








Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang
buahnya sedikit pun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua
kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada
kawannya ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak
dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat."




Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri;
ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,
dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika
sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat
tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu."






Kawannya berkata kepadanya - sedang dia bercakap-cakap dengannya:
"Apakah kamu kafir kepada yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian
dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki
yang sempurna? Tetapi aku: Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak
mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak
mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu ‘MAASYAA ALLAH, LAA QUWWATA
ILLAA BILLAH’. Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam
hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi
kepadaku yang lebih baik dari pada kebunmu; dan mudah-mudahan Dia
mengirimkan ketentuan dari langit kepada kebunmu; hingga menjadi
tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka
sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi."




Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua
tangannya terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang
pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: "Aduhai
kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku."
Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain
Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.






Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah
sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan. Dan
berilah perumpamaan kepada mereka, kehidupan dunia sebagai air
hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya
tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi
kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha-kuasa
atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan
dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik
pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.




(
QS. Al Kahfi, 18: 32-46)
Menyombongkan kekayaan akan membuat seseorang menjadi menggelikan.
Ini adalah ketetapan Allah yang tidak berubah. Kekayaan dan kekuasaan
adalah pemberian Allah dan dapat diambil kembali, kapan pun. Kisah
"orang-orang surga" yang diceritakan dalam Al Quran adalah contoh
yang lainnya:
Sesungguhnya Kami telah men-cobai mereka sebagaimana
Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah
bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetiknya di pagi hari, dan mereka
tidak menyisihkan, lalu kebun itu diliputi malapetaka dari Tuhanmu
ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam
yang gelap gulita, lalu mereka panggil memanggil di pagi hari: "Pergilah
di waktu pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya".








Maka pergilah mereka saling berbisik-bisik. "Pada hari ini janganlah
ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu."






Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi
(orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya).






Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: "Sesungguhnya kita
benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi
(dari memperoleh hasilnya)."






Berkatalah seorang yang paling baik
pikirannya di antara mereka: "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu,
hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?"








Mereka mengucapkan:
"Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
zalim."






Lalu sebahagian mereka menghadapi sebahagian yang lain
seraya cela mencela. Mereka berkata: "Aduhai celakalah kita;
sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas."






Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan yang
lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan
dari Tuhan kita.






Seperti itulah azab. Dan sesungguhnya azab akhirat
lebih besar jika mereka mengetahui.




(QS. Al Qalam, 68: 17-33)

Mereka yang penuh perhatian akan segera mengenali dari ayat-ayat
ini bahwa Allah tidak memberikan contoh tentang manusia ateis dalam
kisah ini. Mereka yang dibicarakan di sini adalah yang sungguh-sungguh
percaya kepada Allah namun hatinya telah menjadi lalai dari mengingat-Nya
dan tidak bersyukur kepada Penciptanya. Mereka berbangga diri akan harta
benda yang telah Allah berikan kepada mereka sebagai nikmat, dan benar-benar
melupakan bahwa harta benda ini hanyalah sumber penghasilan yang harus
digunakan dalam jalan-Nya. Umumnya, mereka mengakui keberadaan dan kekuasaan
Allah; namun hati mereka penuh dengan kesombongan, ambisi, dan keegoisan.

Kisah Qarun, salah seorang umat Nabi Musa, diceritakan dalam Al Quran
sebagai sebuah contoh mendasar dari karakter duniawi manusia yang kaya.
Baik Qarun maupun orang-orang yang menginginkan status dan kekayaannya
adalah orang-orang beriman yang membuang agama mereka untuk harta benda
dan karenanya kehilangan hidup kekal yang diberkahi, yang kerugiannya
adalah kerugian yang abadi:

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka
ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan
kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat
dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. Ketika kaumnya berkata
kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri."




Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari duniawi
dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu,
dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.




Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu,
karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui,
bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya
yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta?
Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu,
tentang dosa-dosa mereka.








Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya.
Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia:
"Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah
diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai
keberuntungan yang besar."






Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan
yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh
pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar."






Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi.
Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya
terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang
membela.








Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan
Qarun itu, berkata: "Aduhai, benarlah Allah melapangkan
rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan
menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas
kita, benar-benar Dia telah membenamkan kita. Aduhai benarlah,
tidak beruntung orang-orang yang mengingkari."






Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak
ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi. Dan
kesudahan itu adalah bagi orang-orang
yang bertakwa.






(QS. Al Qashas, 28: 76-84)
Kekeliruan utama Qarun adalah menganggap dirinya sebagai
suatu keberadaan terpisah dan terlepas dari Allah. Memang,
sebagaimana yang disebutkan ayat tersebut, ia tidak mengingkari
keberadaan Allah, namun menganggap dirinya karena keutamaannya
berhak mendapatkan kekuasaan dan kekayaan yang dilimpahkan Allah
atasnya. Namun, seluruh manusia di dunia adalah hamba Allah dan
harta benda mereka tidak diberikan hanya karena mereka berhak
mendapatkannya. Segala yang diberikan kepada manusia adalah
nikmat dari Allah. Apabila menyadari fakta ini, seseorang tak
akan bersikap tidak berterima kasih dan durhaka kepada Penciptanya
dikarenakan kekayaan yang dimilikinya. Ia hanya akan merasa bersyukur
dan menunjukkan rasa syukurnya ini dengan sikap yang baik kepada
Allah. Ini adalah jalan yang paling baik dan mulia untuk menunjukkan
rasa syukur seseorang kepada Allah. Sebaliknya, Qarun dan orang-orang
yang ingin menjadi seperti Qarun menyadari jalan kejahatan yang mereka
lakukan hanya saat kehancuran menimpa mereka. Jika setelah segala
kehancuran menimpa, mereka tetap ingkar dan memberontak kepada Allah,
mereka akan dibinasakan sepenuhnya. Untuk mereka sebuah akhir yang
tidak akan terhindarkan: neraka, sebuah tempat tinggal yang sangat buruk!

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya
kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan,
perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan
tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya
mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu
lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab
yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan
dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al Hadiid,
57: 20)